ARTIKELKITA, CIREBON– Militer Israel dibuat pusing oleh senjata baru Hizbullah: drone serat optik murah yang sulit dideteksi.
Senjata “mainan anak-anak” ini justru jadi ancaman mematikan bagi pasukan Israel di perbatasan Lebanon selatan.
Dalam waktu kurang dari sepekan, Israel mengonfirmasi dua tentaranya dan satu kontraktor sipil tewas akibat serangan drone peledak Hizbullah.
Baca Juga:Pekan Imunisasi Dunia 2026: Kemenkes Kejar Anak Zero-DoseDaftar Lengkap Mutasi Polres Kuningan 2026, Wakapolres hingga Kapolsek Berganti
Beberapa lainnya luka-luka. Padahal, gencatan senjata sudah berlaku sejak pertengahan April 2026.
“Drone ini kecil, murah, dan mudah didapat, seperti mainan anak-anak,” ujar Orna Mizrahi, peneliti senior Institut Studi Keamanan Nasional Israel atau INSS, dikutip Al Arabiya, Minggu 3 Mei 2026.
Masalahnya, militer Israel belum punya penangkal efektif. “Mereka tidak siap menghadapi bahan peledak berteknologi rendah seperti ini,” kata Mizrahi kepada AFP.
Sejak awal Maret 2026, Israel menggempur Hizbullah di Lebanon selatan.
Kedua pihak terus baku tembak meski gencatan senjata disepakati. Namun belakangan, Hizbullah mengubah taktik.
Jika sebelumnya mengandalkan rentetan roket, kini mereka lebih banyak memakai drone serat optik.
Berbeda dari drone konvensional yang dikendalikan GPS atau radio, drone Hizbullah tersambung ke peluncur lewat kabel serat optik tipis sepanjang puluhan kilometer.
Operator mengendalikannya dengan tampilan orang pertama atau FPV, lewat layar atau kacamata VR. Pelatihannya pun tidak butuh waktu lama.
Baca Juga:Publik Menunggu, FORMASI Desak DPRD Kabupaten Cirebon Buka Fakta Anggaran Rp55 MiliarHarlah ke-76, Fatayat NU Cirebon Gelar Workshop Perlindungan Perempuan dan Anak
“Karena tidak mengirim gambar lewat siaran radio dan tidak menerima perintah lewat penerima radio, drone ini tidak bisa dideteksi intelijen elektronik atau diblokir lewat peperangan elektronik,” jelas Arie Aviram, pakar yang menulis untuk INSS.
Keunggulan itu bikin drone serat optik lincah, presisi, dan mematikan. Tanpa jejak elektronik, militer Israel hanya bisa mengandalkan radar atau deteksi visual. Seringnya, deteksi datang terlambat.
Menurut Mizrahi, penggunaan drone murah ini adalah ciri khas perang asimetris.
Biayanya pun sangat rendah. Para ahli menyebut, merakit satu unit drone serat optik hanya butuh 300 dolar sampai 4.000 dolar, tergantung kualitas komponen. Semua part bisa dibeli di marketplace seperti AliExpress.
Jumat lalu, Kepala Media Hizbullah Youssef al Zein membenarkan penggunaan drone tersebut.
