ARTIKELKITA, JAKARTA — Pemerintah Indonesia kembali memperkuat komitmen dalam meningkatkan cakupan imunisasi nasional.
Melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes), langkah strategis digencarkan bersama mitra global seperti UNICEF dan World Health Organization untuk menjangkau anak-anak yang belum pernah menerima vaksin atau dikenal sebagai zero-dose.
Momentum Puncak Pekan Imunisasi Dunia (PID) 2026 menjadi titik penting dalam mengakselerasi program ini.
Baca Juga:Daftar Lengkap Mutasi Polres Kuningan 2026, Wakapolres hingga Kapolsek BergantiPublik Menunggu, FORMASI Desak DPRD Kabupaten Cirebon Buka Fakta Anggaran Rp55 Miliar
Pemerintah menilai, pemulihan cakupan imunisasi pascapandemi Covid-19 masih perlu dikejar, terutama untuk kelompok rentan yang belum tersentuh layanan kesehatan dasar.
Data Kemenkes menunjukkan, hingga saat ini masih terdapat sekitar 960 ribu anak di Indonesia yang belum mendapatkan imunisasi sama sekali.
Angka ini menjadi perhatian serius karena berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menegaskan bahwa imunisasi rutin merupakan benteng utama dalam menjaga kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.
Menurutnya, penurunan cakupan imunisasi yang terjadi selama pandemi harus segera diatasi agar tidak memicu kejadian luar biasa (KLB) penyakit seperti campak, difteri, hingga pertusis.
“Imunisasi adalah langkah pencegahan paling efektif. Jika cakupan tidak optimal, risiko wabah akan meningkat. Ini yang harus kita cegah bersama,” ujar Andi dalam keterangan resminya.
Selain fokus pada peningkatan cakupan, pemerintah juga memastikan ketersediaan vaksin dalam kondisi aman.
Baca Juga:Harlah ke-76, Fatayat NU Cirebon Gelar Workshop Perlindungan Perempuan dan AnakUPDATE Cuaca Jabar Malam Ini: Hujan Lebat, Petir dan Angin Kencang Ancam Sejumlah Wilayah
Kemenkes menyebut stok vaksin nasional mencukupi hingga sembilan bulan ke depan, sehingga tidak ada kendala dari sisi pasokan.
Namun demikian, tantangan tidak berhenti pada ketersediaan. Distribusi vaksin hingga ke daerah terpencil serta menjaga kualitas rantai dingin menjadi faktor krusial agar efektivitas vaksin tetap terjaga saat diberikan kepada masyarakat.
Direktur Imunisasi Kemenkes, Indri, menambahkan bahwa Pekan Imunisasi Dunia 2026 bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum untuk meningkatkan kesadaran publik.
Ia menegaskan, imunisasi harus dipandang sebagai kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi, bukan pilihan.
“Kami ingin masyarakat semakin sadar bahwa imunisasi adalah investasi kesehatan jangka panjang bagi anak-anak. Ini adalah tanggung jawab bersama,” jelasnya.
Berbagai inovasi juga terus dilakukan Kemenkes untuk memperluas jangkauan imunisasi, mulai dari pendekatan berbasis komunitas hingga pemanfaatan teknologi digital dalam pemantauan dan evaluasi program.
