Meski Kemarau, Hujan Lebat Masih Terjadi, Ini Kata BMKG

BMKG
Sejumlah awan tebal masih menyelimuti wilayah Indonesia khususnya di perairan Laut Jawa meski saat ini sudah memasuki awal musim kemarau.
0 Komentar

ARTIKELKITA, PONTIANAK – Meski musim kemarau mulai meluas di sejumlah wilayah Indonesia, potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih tetap terjadi.

Hal ini disampaikan oleh BMKG dalam laporan terbaru terkait dinamika cuaca nasional.

Berdasarkan data terkini, sekitar 12,8 persen wilayah Indonesia atau 90 Zona Musim (ZOM) telah resmi memasuki musim kemarau.

Baca Juga:FORMASI Cirebon Desak Walikota Tuntaskan Kewajiban, Soroti Etika KepemimpinanPolemik Anggaran Rp55 Miliar, FORMASI Cirebon Desak DPRD Gelar RDP Terbuka

Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menghilangkan peluang turunnya hujan, terutama pada masa peralihan musim seperti saat ini.

Wilayah yang mulai mengalami musim kemarau meliputi sebagian daerah di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, hingga Banten dan DKI Jakarta.

Selain itu, sejumlah wilayah di Pulau Jawa seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur juga mulai merasakan karakteristik musim kering.

Tak hanya itu, sebagian wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta beberapa daerah di Sulawesi dan Maluku juga telah memasuki fase serupa.

Namun demikian, BMKG mengingatkan bahwa pola cuaca saat ini masih berada dalam fase peralihan atau pancaroba.

Kondisi ini ditandai dengan suhu udara yang cenderung panas pada pagi hingga siang hari, tetapi berpotensi berubah menjadi hujan pada sore hingga malam hari.

“Perbedaan suhu yang signifikan antara pagi dan siang hari memicu proses konveksi.”

Baca Juga:SMK Muhammadiyah Lemahabang Cetak Lulusan Siap Kerja dan BerakhlakDaftar Harga Ban Bridgestone Terlengkap 2026, dari New Techno hingga Ecopia

“Hal ini menyebabkan terbentuknya awan hujan lokal pada sore hingga malam hari,” tulis BMKG dalam keterangannya.

Hujan yang terjadi pada periode pancaroba umumnya bersifat tidak merata, berdurasi singkat, namun bisa berintensitas sedang hingga lebat.

Bahkan, kondisi ini juga berpotensi disertai kilat, petir, serta angin kencang.

Selain faktor lokal, dinamika atmosfer global juga turut memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia.

BMKG mencatat adanya aktivitas gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, gelombang Kelvin, serta Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan.

Tak hanya itu, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) juga terpantau aktif dan memengaruhi sebagian wilayah Indonesia, sehingga meningkatkan potensi curah hujan dalam beberapa hari terakhir.

Dalam catatan sebelumnya, curah hujan dengan intensitas tinggi terjadi di berbagai wilayah pada periode akhir April.

0 Komentar