Meski Kemarau, Hujan Lebat Masih Terjadi, Ini Kata BMKG

BMKG
Sejumlah awan tebal masih menyelimuti wilayah Indonesia khususnya di perairan Laut Jawa meski saat ini sudah memasuki awal musim kemarau.
0 Komentar

Beberapa daerah bahkan mencatatkan angka signifikan, seperti Papua Selatan dengan 112,6 mm per hari, NTB 70,5 mm per hari, serta Sumatera Barat 63,4 mm per hari.

Selain itu, wilayah Bangka Belitung, NTT, Papua Tengah, hingga Sulawesi Selatan juga mengalami hujan lebat dengan intensitas yang cukup tinggi.

BMKG menjelaskan, kondisi tersebut juga dipicu oleh terbentuknya sirkulasi siklonik di wilayah perairan barat Sumatera dan Kalimantan Barat.

Baca Juga:FORMASI Cirebon Desak Walikota Tuntaskan Kewajiban, Soroti Etika KepemimpinanPolemik Anggaran Rp55 Miliar, FORMASI Cirebon Desak DPRD Gelar RDP Terbuka

Sirkulasi ini memicu terbentuknya daerah pertemuan angin (konvergensi) dan belokan angin (konfluensi), yang mendukung pertumbuhan awan hujan.

Di sisi lain, suhu udara panas juga masih mendominasi di beberapa wilayah Indonesia.

Pada awal Mei 2026, sejumlah daerah di Kalimantan dan Sulawesi mencatatkan suhu maksimum cukup tinggi.

Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan di Kalimantan Utara mencatat suhu mencapai 36,6 derajat Celcius, disusul Kalimarau, Kalimantan Timur dengan suhu 36,4 derajat Celcius.

Sementara di Sulawesi Tengah, suhu maksimum tercatat mencapai 35,8 derajat Celcius.

Kondisi ini menunjukkan adanya kombinasi antara suhu panas dan kelembaban udara yang tinggi, yang menjadi faktor utama terbentuknya awan konvektif penyebab hujan lokal.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang cukup dinamis selama masa pancaroba.

Aktivitas di luar ruangan perlu disesuaikan dengan kondisi cuaca, terutama pada sore hingga malam hari yang berpotensi terjadi hujan disertai angin kencang.

Baca Juga:SMK Muhammadiyah Lemahabang Cetak Lulusan Siap Kerja dan BerakhlakDaftar Harga Ban Bridgestone Terlengkap 2026, dari New Techno hingga Ecopia

Selain itu, masyarakat juga diminta menjaga kesehatan akibat perubahan suhu yang cukup ekstrem antara siang dan malam hari.

Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu ini, penting bagi masyarakat untuk rutin memantau informasi resmi dari BMKG agar dapat mengantisipasi potensi cuaca ekstrem sejak dini. (***)

0 Komentar