Fakta Baru Campak: Evolusi dari Virus Sapi, Ini Gejala dan Cara Penularannya

Monstera Production (pexels)
Ilustrasi virus campak
0 Komentar

ARTIKELKITA, JAKARTA – Kasus campak kembali menjadi sorotan setelah peneliti mengungkap asal-usul virus yang ternyata berakar dari penyakit pada hewan ternak.

Temuan ini memperkuat pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit menular yang dapat berpindah antarspesies.

Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Harimat Hendarwan, menjelaskan bahwa virus campak merupakan hasil evolusi dari virus Rinderpest, penyakit mematikan yang dahulu menyerang sapi.

Baca Juga:Jepang Kembali Impor Minyak Rusia, Ini Alasan di Balik Keputusan Taiyo OilPekan Imunisasi Dunia 2026: Kemenkes Kejar Anak Zero-Dose

Proses lompatan spesies atau spillover ini diperkirakan terjadi sekitar abad ke-6 sebelum Masehi, seiring meningkatnya interaksi manusia dengan hewan ternak.

Menurutnya, hingga kini manusia menjadi satu-satunya inang alami virus campak.

Hal ini menjadikan penyakit tersebut sangat mudah menyebar di antara populasi manusia, terutama pada individu yang belum mendapatkan imunisasi.

Campak dikenal sebagai salah satu penyakit paling menular di dunia.

Seseorang yang belum pernah divaksin bahkan bisa terinfeksi hanya dengan berada di ruangan yang sama dengan penderita, meskipun penderita sudah meninggalkan ruangan tersebut.

Virus dapat bertahan di udara maupun di permukaan benda hingga dua jam dan tetap berpotensi menularkan.

Penularan umumnya terjadi melalui droplet atau percikan cairan dari hidung dan tenggorokan penderita, seperti saat batuk atau bersin.

Oleh karena itu, penyebaran virus ini sangat cepat, terutama di lingkungan dengan mobilitas tinggi.

Gejala awal campak biasanya berupa demam tinggi yang disertai batuk, pilek, serta konjungtivitis atau peradangan pada mata.

Baca Juga:Daftar Lengkap Mutasi Polres Kuningan 2026, Wakapolres hingga Kapolsek BergantiPublik Menunggu, FORMASI Desak DPRD Kabupaten Cirebon Buka Fakta Anggaran Rp55 Miliar

Selain itu, penderita juga bisa mengalami diare, muntah, sakit perut, sakit tenggorokan, hingga sakit kepala.

Dalam beberapa hari, akan muncul ruam khas yang dimulai dari wajah, kemudian menyebar ke leher, belakang telinga, hingga ke seluruh tubuh.

Harimat menekankan pentingnya pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis.

Pasalnya, sejumlah penyakit lain memiliki gejala yang mirip dengan campak sehingga diperlukan uji lanjutan agar penanganan tepat sasaran.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat lonjakan kasus campak pada awal tahun 2026.

Pada minggu pertama, jumlah kasus mencapai 2.220, sebelum akhirnya berangsur menurun hingga 146 kasus pada minggu ke-12.

0 Komentar