Ancaman Baru di Timur Tengah, Trump Pertimbangkan Serang Iran dengan Rudal Hipersonik

pexel.com
Ilustrasi rudal hipersonik
0 Komentar

ARTIKELKITA – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas.

Di tengah ketidakpastian proses diplomasi, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah agresif dengan mengerahkan senjata paling mutakhir milik Pentagon, yakni rudal hipersonik Dark Eagle.

Senjata yang juga dikenal sebagai Long-Range Hypersonic Weapon (LRHW) ini memiliki kemampuan luar biasa.

Dengan kecepatan lebih dari Mach 5 atau lima kali kecepatan suara, Dark Eagle mampu meluncur dengan manuver tinggi di atmosfer atas, sehingga sulit dideteksi maupun dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional.

Baca Juga:Cara Menanam Sawi Hijau di Polybag, Panen Cepat 30 Hari untuk PemulaHonda NS150ES 2026 Meluncur, Perpaduan PCX dan Vario Harga Rp33 Jutaan

Permintaan pengerahan sistem ini datang dari United States Central Command (Centcom).

Langkah tersebut dipertimbangkan sebagai respons atas strategi militer Iran yang kini memindahkan peluncur rudal balistiknya ke wilayah pegunungan, membuatnya sulit dijangkau oleh persenjataan standar Amerika Serikat.

Laporan media internasional menyebutkan bahwa penggunaan rudal hipersonik ini bukan sekadar langkah taktis, tetapi juga berkaitan dengan persaingan kekuatan global.

Selama beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat dinilai tertinggal dalam perlombaan teknologi senjata hipersonik dibanding Rusia dan China.

Rusia diketahui telah lebih dulu mengoperasikan rudal Kinzhal, sementara China memperkenalkan DF-17 sebagai bagian dari kekuatan militernya.

Jika Dark Eagle benar-benar digunakan dalam konflik, hal ini akan menjadi debut tempur pertamanya sekaligus pembuktian bahwa Washington mampu menyamai bahkan melampaui kemampuan para rivalnya.

Situasi di kawasan Teluk sendiri masih berada dalam fase gencatan senjata sejak 9 April lalu.

Baca Juga:Persib Bangkit dari Ketertinggalan, Marc Klok Ingatkan Jangan TerlenaDedi Mulyadi Jadi Saksi Nikah Pasangan Disabilitas di Bandung, Pesannya Menyentuh

Namun, sejumlah analis menilai kondisi ini hanya bersifat sementara. Baik Amerika Serikat maupun Iran diduga memanfaatkan masa jeda tersebut untuk memperkuat persenjataan serta menyusun strategi lanjutan.

Tekanan terhadap pemerintahan Trump pun semakin meningkat. Konflik yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga mengguncang ekonomi global.

Salah satu dampak paling nyata adalah terganggunya jalur distribusi energi dunia. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi isu krusial.

Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia, dengan kontribusi sekitar 20 persen dari total pasokan global.

0 Komentar