Sebuah Goresan Luka di Pasar Kalitanjung Cirebon Mengubah Hidup Pemuda Ini, Begini Kisah Lengkapnya

Ilustrasi: Didin Supirman
Seorang pemuda yang trauma saat menyetir mobil, karena pernah sebabkan mobil tergores.
0 Komentar

Saat menyerahkan mobil kembali ke rental, Kholil sudah menyiapkan diri. Ia tahu bahwa aturan rental biasanya mengharuskan penyewa membayar ganti rugi jika mobil rusak. Tetapi ia belum siap ketika diberi nominal ganti rugi Rp 400 ribu.

“Padahal lecetnya dikit banget, cuma garis putih kecil,” ujarnya sambil mengingat bentuk lecet itu dengan jelas.

Pihak rental berargumen bahwa biaya tersebut sudah termasuk perbaikan dan cat ulang bumper.

Baca Juga:Jawa Barat Genjot Revolusi Transportasi Rel: Dari Jaka Lalana hingga Kereta Kilat PajajaranLangkah Berani XTC Kabupaten Cirebon: Usulkan Pansus Pengawasan Hiburan Malam

Meski menurut sebagian orang harga itu wajar dalam industri rental mobil, bagi Kholil yang saat itu sedang tidak punya penghasilan tetap, jumlah itu terasa berat. Namun ia tidak punya banyak pilihan. Ia membayar.

Tetapi harga paling mahal sesungguhnya bukan Rp 400 ribu yang keluar dari dompetnya. Melainkan keberaniannya yang ikut hilang hari itu.

Sejak kejadian itu, Kholil tidak mau lagi belajar mobil. Setiap diajak teman atau keluarga untuk latihan, ia selalu menolak. Setiap melihat video tutorial mengemudi, dadanya langsung sesak.

“Traumanya bukan karena nabrak… tapi karena rasanya kayak saya yang salah semua, padahal motor itu yang maksa lewat,” ucapnya lirih.

Mengapa Trauma Belajar Mobil Sering Terjadi pada Pemula?

Pengalaman Kholil sebenarnya dialami banyak pemula lain. Dalam dunia psikologi, insiden seperti ini termasuk trauma situasional yakni trauma yang muncul karena peristiwa yang membuat seseorang merasa bersalah, malu, atau terancam, meski secara fisik tidak terluka.

Beberapa faktor yang membuat pemula lebih mudah trauma antara lain, pertama kecemasan sosial karena takut dinilai orang lain saat mengemudi.

Kedua, rasa bersalah berlebihan, merasa satu goresan kecil adalah “bencana besar”.

Baca Juga:Festival Jamblang 2025: Cara Hidupkan Kembali Tradisi Cirebon dan Magnet Wisata BaruBBM dan LPG Dipastikan Aman Saat Nataru: Begini Kesiapan Pertamina Patra Niaga Sambut Libur Panjang

Ketiga, kurangnya pengalaman membuat reaksi terhadap situasi tak terduga lebih lambat.

Keempat, kerugian finansial, seperti yang dialami Kholil, membuat ketakutan semakin dalam. Dan terkahir, karena idak adanya dukungan saat kejadian.

Di tengah kondisi jalan yang padat dan seringkali tidak tertib, pemula membutuhkan lingkungan aman dan pendamping yang bisa menolong ketika panik.

Sayangnya, bagi banyak orang, proses belajar mobil justru dilakukan di jalan-jalan yang ramai dan penuh tekanan.

0 Komentar