ARTIKELKITA.COM – Di tengah meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap karyawan yang memiliki mampu mengendarai mobil dan memiliki SIM A, tidak semua orang bisa melangkah dengan percaya diri menuju proses belajar itu.
Sebagian orang mungkin hanya membutuhkan beberapa minggu untuk lancar setir mobil.
Namun bagi sebagian lainnya, pengalaman buruk dapat menutup keberanian untuk memulai lagi.
Baca Juga:Jawa Barat Genjot Revolusi Transportasi Rel: Dari Jaka Lalana hingga Kereta Kilat PajajaranLangkah Berani XTC Kabupaten Cirebon: Usulkan Pansus Pengawasan Hiburan Malam
Seperti yang dialami Kholil, seorang pemuda Cirebon yang hingga kini masih menyimpan trauma cukup dalam setiap kali mendengar suara mesin kendaraan roda empat dinyalakan.
Bukan karena ia tidak ingin bisa, bukan pula ia tidak mampu. Tetapi sebuah pengalaman kecil, yang terlihat sepele bagi sebagian orang, justru membekas dan memutuskan nyalinya.
“Kalau lihat mobil sih nggak apa-apa… tapi begitu disuruh duduk di kursi kemudi, tangan langsung dingin,” ujarnya pelan, mengingat kejadian yang membuatnya enggan menyentuh setir lagi.
Padahal kemampuan mengendarai mobil kini seperti tiket masuk ke banyak lowongan pekerjaan. Banyak perusahaan baik kecil maupun besar mensyaratkan calon karyawan memiliki SIM A.
Tidak hanya untuk sopir atau kurir logistik, bahkan bagian administrasi lapangan, marketing, sampai tenaga teknis pun kini sering dituntut bisa menyetir mobil.
Tetapi bagi Kholil, persyaratan itu terasa seperti pintu yang tertutup. Sebab ia masih dihantui memori kecelakaan kecil yang terjadi di kawasan Pasar Kalitanjung, Cirebon.
Awal yang Baik, Berakhir Menjadi Kenangan Buruk
Beberapa bulan lalu, Kholil sebenarnya sudah mengambil langkah besar: ia menyewa sebuah mobil untuk belajar menyetir secara mandiri.
Baca Juga:Festival Jamblang 2025: Cara Hidupkan Kembali Tradisi Cirebon dan Magnet Wisata BaruBBM dan LPG Dipastikan Aman Saat Nataru: Begini Kesiapan Pertamina Patra Niaga Sambut Libur Panjang
Ia ingin cepat menguasai keahlian itu karena beberapa perusahaan yang ia lamar menjadikan SIM A sebagai syarat mutlak.
Ia datang ke sebuah rental mobil di Cirebon, menyewa unit bertransmisi manual pilihan yang umum dan lebih murah.
Hari itu ia merasa cukup percaya diri. Beberapa latihan sebelumnya berjalan dengan baik.
Ia bahkan sudah mulai lancar mengatur gas, rem, dan kopling. Meski tidak sehalus sopir profesional, tapi cukup aman untuk pemula.
Hari itu mestinya menjadi latihan menyenangkan. Namun takdir punya rencana lain.
